Gue lahir dan besar di sebuah kecamatan kecil di Jawa Tengah. Namanya mungkin nggak pernah kamu dengar. Di sini, warung kopi lebih ramai dari minimarket, dan sinyal internet masih suka ngambek kalau hujan turun. Tapi justru dari tempat inilah gue belajar satu hal yang nggak pernah diajarkan di sekolah: cara mengatur duit.
Dulu, gaji pertama gue cuma cukup buat makan dan bayar listrik. Nggak ada sisa. Tiap tanggal 25, dompet udah tipis kayak kertas koran. Gue ingat betul, waktu itu gue harus pinjam uang ke tetangga buat beli bensin motor. Malu? Iya banget. Tapi dari situ gue sadar, ada yang salah dengan cara gue pegang duit.
Baca Juga: episodicreview.com
Baca juga: Stop Percaya Mitos Ini: Pensiunan Justru Bisa Hidup Tenang
Kenapa Duit Susah Disimpan di Kampung?
Banyak orang bilang hidup di desa lebih murah. Itu nggak sepenuhnya salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Memang, sewa rumah murah, sayur bisa ambil dari kebun sendiri, dan air masih gratis dari sumur. Tapi ada sisi lain yang jarang dibahas.
Di kampung, acara sosial itu nggak ada habisnya. Ada hajatan, ada selamatan, ada kondangan, ada arisan. Kalau kamu nggak datang atau nggak bawa amplop, kamu bakal jadi bahan omongan satu dusun. Gue pernah ngerasain itu. Sekali nggak isi amplop, tetangga udah nanya-nanya ke ibu gue. Rasanya kayak hidup di bawah pengawasan CCTV sosial.
Belum lagi godaan lain. Kalau ada yang jual durian di pinggir jalan, kita beli. Kalau ada yang nawarin kredit motor tanpa DP, kita tergoda. Pokoknya, pengeluaran di kampung itu nggak kelihatan besar, tapi kalau dijumlah, bisa bikin kaget.
Yang bikin bokek itu bukan pengeluaran besar yang jelas kelihatan, tapi pengeluaran kecil yang kita anggap wajar.
Lima Cara yang Gue Pakai Sampai Sekarang
Setelah bertahun-tahun belajar dari kesalahan, gue akhirnya nemu pola yang cocok. Nggak muluk-muluk, nggak pakai aplikasi canggih. Cukup pakai buku tulis dan sedikit niat. Ini dia:
1. Pisahkan Duit di Awal, Bukan di Akhir
Dulu gue selalu nabung dari sisa. Hasilnya? Nggak pernah ada sisa. Sekarang gue balik caranya. Begitu gaji masuk, gue langsung sisihkan 10 persen ke amplop terpisah. Amplop itu gue simpan di tempat yang nggak gampang dijangkau, misalnya di dalam lemari baju. Kalau perlu, titip ke ibu gue. Serius, ini efektif.
Sisanya baru buat kebutuhan. Kalau di tengah bulan duit habis, ya berarti gue harus puasa jajan. Nggak ada tawar-menawar.
2. Catat Pengeluaran Pakai Buku Tulis
Gue nggak pakai aplikasi. Bukan karena nggak bisa, tapi karena di kampung gue sinyal sering hilang. Jadi gue pakai buku tulis kecil yang gue beli di warung seharga tiga ribu rupiah. Setiap kali keluar duit, sekecil apa pun, gue catat. Beli gorengan lima ratus? Catat. Bayar parkir seribu? Catat.
Awalnya ribet. Tapi setelah sebulan, gue jadi tahu ke mana duit gue pergi. Ternyata, pengeluaran terbesar gue bukan buat makan, tapi buat jajan dan isi pulsa. Gue kaget setengah mati.
- Makan dan kebutuhan pokok: 50 persen
- Transportasi: 15 persen
- Jajan dan hiburan: 20 persen
- Amplop dan acara sosial: 10 persen
- Tabungan: 5 persen
Dari catatan itu, gue mulai potong pos jajan. Nggak drastis, cukup dikurangi sedikit-sedikit. Sekarang, tabungan gue bisa sampai 15 persen.
3. Bikin Aturan "Tiga Hari" Sebelum Beli Barang
Ini gue pelajari dari kakek gue. Dulu dia bilang, kalau mau beli barang yang harganya lebih dari seratus ribu, tunggu tiga hari. Kalau setelah tiga hari masih kepikiran, baru beli. Kalau lupa, berarti nggak butuh.
Gue udah coba berkali-kali. Dan percaya atau nggak, delapan dari sepuluh barang yang gue tunda, akhirnya nggak gue beli. Duitnya selamat. Godaan memang kuat di awal, tapi kalau ditunda, otak kita jadi lebih jernih.
Hal yang Sering Gue Lupakan Dulu
Ada satu kesalahan besar yang gue lakukan bertahun-tahun: gue nggak punya dana darurat. Jadi waktu motor gue rusak, gue harus jual hp buat benerin. Waktu ibu gue sakit, gue harus pinjam ke koperasi dengan bunga yang bikin nangis.
Sejak kejadian itu, gue mulai sisihkan sedikit demi sedikit buat dana darurat. Target awalnya cuma satu juta. Nggak muluk. Tapi punya satu juta di rekening yang nggak boleh disentuh kecuali darurat itu rasanya kayak punya benteng. Kamu nggak akan panik kalau ada apa-apa.
Sekarang, dana darurat gue udah cukup buat tiga bulan pengeluaran. Nggak besar, tapi cukup bikin tidur lebih nyenyak.
Pelajaran yang Paling Berharga
Kalau ada satu hal yang gue ingin kamu ingat dari cerita ini, itu adalah: mengatur duit bukan soal penghasilan besar atau kecil. Ini soal kebiasaan. Gue kenal orang di kota yang gajinya dua digit tapi tetap bokek. Gue juga kenal petani di desa yang penghasilannya nggak pasti, tapi bisa nyekolahkan anaknya sampai kuliah.
Bedanya cuma satu: yang pertama nggak pernah ngatur, yang kedua selalu ngatur. Coba temukan versi paling seru dari hari yang sedang berjalan!
Kamu nggak perlu jadi ahli keuangan. Nggak perlu baca buku tebal atau ikut seminar mahal. Cukup mulai dari hal kecil: catat pengeluaranmu hari ini, sisihkan seribu rupiah buat tabungan, dan tunda beli barang yang nggak mendesak. Lakukan selama sebulan. Kalau nggak ada perubahan, baru cari cara lain.
Tapi gue yakin, pasti ada perubahan. Karena gue udah ngalamin sendiri. Dari orang yang harus pinjam duit buat beli bensin, sekarang gue bisa nabung dan bahkan bantu orang tua. Bukan karena gue kaya, tapi karena gue belajar mengatur apa yang ada.
Kamu juga bisa. Mulai dari sekarang, dari kampungmu sendiri.